Indonesia Admin Blogspot. Powered by Blogger.

Monday, February 8, 2010

FILSAFAT ETIKA

FILSAFAT ETIKA II


Nama: Muhammad Ihwanuddin

Muhammad Aditamami



A. Teori etika metaetik atau analitik

Pendapat Moore yang mengatakan bahwa baik adalah nama sesuatu yang non empirik, kualitas kebaikan sesuatu tidak dapat dijelaskan, atau pendapat Stevenso yang mengatakan bahwa moral meliputi ekpresi kesetujuan yang sekaligus berusaha mempengaruhi sikap dan perilaku

Matematik adalah sebuah sebuah kajian tentang pernyataan moral atau penilaian moral sebagai kebalikan dari etika normatif yang merupakan kajian tentang benar dan salah atau baik dan buruk atau bagaimana seharusnya berperilaku. Mataetika berkaitan tentang penggunaan bahasa moral dan ia lebih bersifat deskriptif dan analisis daripada preskiptif dan sutantif.

Non kognitivis yamg menolak bahwa term atau pernyataan etis itu bersifat iniformatif atau pada dasarnya bersifat informatif. Madzhab etika kognitif (etika definitif atau deskriptif; masalah moral berkaitan daengan fakta-fakta berbagai hal) bisa berupa:

  1. naturalisme yang terdiri dari: a subjektifisme dan b instrumentalisme.
  2. supernaturalisme
  3. nonnaturalisme. Berikut ini sekilas tentang pendapat mereka:

1.naturalisme: masalah moral berkaitan dengan fakta-fakta empiris " X adalah baik " artinya "seseorang setuju terhadap X". a) subjektivisme: wacana moral berkaitan dengan konflik interest. " X adalah baik ", artinya X adalah sesuatu yang menarik bagi seseorang". (Perry) b) instrumentalisme: (termasuk eksperimentalisme, kontektualisme, pragmatismeatau relativisme objektif). Masalah moral berkaitan dengan kepuasan kepentingan manusia. "X adalah baik" artinya "x adalah sebuah maksud yang memiliki tujuan yang menarik". (Dewey)

2. supernaturalisme : wacana moral berkaitan dengan fakta metafisik. "X adalah baik", artinya "Tuhan menghendaki X" (paley).

3. non naturalisme ( termasuk pula objektivisme atau intuisionisme) : masalah moral berkaitan dengan fakta-fakta moral. " X itu baik" artinya "X memiliki moral objektif tetapi nilai kebaikannya bersifat nonempirik". (moore).

Sementara madzhab etika nonkognitivis (nondeskriptif, positivis, atau teori dinamis) bisa berupa:

  1. emotivisme :masalah moral pada dasarnya adalah ekspresi sikap. "X adalah baik" artinya secara emosional "ya"(Ayer)

sementara madzhab etila nonkognitivis(nondeskriptif, positivis atau teori dinamis) bisa berupa:

  1. Emotivisme: masalah moral pada dasarnya adalah ekpresi sikap "X adalah baik" artinya secara emosional "ya". (Ayer).
  2. Imperatisme: masalah moral pada dasarnya mempengaruhi sikap. "X adalah baik" artinya "saya setuju terhadap x sehingga saya melakukannya". (Stevenson).
  3. Preskriptivisme: masalah moral pada dasanya membimbing perilaku. "X adalah baik" artinya "saya memerintahkan melakukan x".(Hare).
  4. Teori Alasan Baik (Good Reason): masalah moral harus dilakukan dengan fakta bahwa ia sangat relevan dengan evaluasi moral. "X adalah baik " artinya "kita memiliki alasan yang baik untuk menyetujui x, alasan baik dalam meyakini bahwa x menjanjikan kesejahteraan manusia dsb". (Tauilmin, Baire, atau Warnock)


Etika Relativisme

Relativisme dalam teori etika menolak keberadaan standar moral universal, seperti anggapan Plato bahwa ada kebaikan universal dan absolut.


Relativisme Sosiologis

Relativisme sosiolagis atau kultural mengatakan bahwa sebagaimana fakta adanya keyakinan moral adalah berbeda antara satu budaya dengan budaya lainya. Apa yang disebut benar oleh satu budaya belum tentu akan dianggap benar oleh budaya lain.


Relativisme Etik

Etika relativisme mengatakan bahwa semua keyakinan moral adalah benar. Tidak ada standar atau kriteria universal menghubungkan kriteria putusan dengan kebudayaan individual, yang memperlihatkan perbedaan-perbedaan individual. Etika situasi dari Joseph Fletcher menganggap moralitas suatu tindakan relatif terhadap kebaikan tujuan tindakan itu.

Etika Religius (Baik adalah cinta Tuhan dan sesama sebagai bentuk ketaatan pada kehendak tuhan. Tuhan merupakan sumber nilai)

Etika keagamaan tradisional didasarkan pada keyakinan terhadap tuhan dan semesta moral. Sejumlah aliran eksistensialisme religius kontemporer menolak teisme tradisional. Umumnya menolak bentuk supernaturalisme dan otoritarianisme. Sebagai gantinya landasan non teistik disampaikan dalam etika tillich; atau teologi radikal yang melihat agama secara sekuler karena "Tuhan telah mati" membuat etika lebih bersifat humanistik dan universal, serta eksesistensial. Bagi etika keagamaan tradisional, Tuhan dianggap sebagai kebajikan (St. Agustine), atau tebatasi oleh kebajikan (Plato), dan merupakan sumber dan pendukung semua nilai. (bandingkan dalam islam Tuhan sebagian bernama: al-barr; al-muhsin; yang maha baik).

Sebagai semesta moral, dunia ini di atur menurut hukum moral yang membangun sesuatu secara fisik (St. Thomas Aquinas) atau mengungkapkan dirinya dalam realitas diri terdalam yang tak-dapat–diketahui (Kant). Dalam etika relijius tradisional, tuhan merupakan pengatur segala sesuatu (al-mudabbir kulla syay'i). apa yang dia kehendaki dalam kedudukannya sebagai tuhan (teisme) adalah baik karena dia menghendakinya (William Ockham). Dilain pihak, yang baik bisa saja tidak semuanya disampaikan oleh tuhan, tetapi terkait dengan "kebahagiaan manusia" (Paley). Dalam banyak hal, ketaatan kepada Tuhan merupakan yang paling utama dalam etika relijius tradisional. (perhatikan arti islam itu sendiri dalam hal ini).

Walaupun umumnya etika keagamaan tradisional bersifat teistik, namun ketegangan mistik (terutama yang berasal dari Plotinus) mendasari semua nilai dalam konsep panteisme tentang Tuhan, dimana tujuan hidup adalah menyatu dengan Tuhan ( bandingkan dengan sebagian ajaran sufisme dalam islam tentang wahdat alwujud). Dalam plotinus, dunia merupkan emanasi Tuhan dan karena dunia itu lebih rendah dan kekurangannya dibandingkan dengan kebajikan tertinggi itu sendiri. Sebaliknya dalam filsafat dualistik, dunia ini berjalan bersama dengan kejahatan atau keadaan "terpuruk" (Manichaisme); karenanya yang baik harus membuat jalan untuk melepaskan diri dari dunia "daging dan kejahatan" (Asketisme; al-zuhd). Dalam filsafat ini, terdapat penyerta yang menyatukan ide keselamatan dengan ide tentang yang baik. Di lain pihak ketika Tuhan digambarka sebagai pencipta alam ini pada waktu yang lalu dan sekarang secara terus menurus melakukn penciptaan, keterlibatan Tuhan dalam memenuhi tujuan-Nya dapat diartikan sebagai yang baik. Hal ini dibenarkan oleh teori realisasi diri (self-realization) yang berkaitan dengan etika diman relisasi potensi diri merupakan tujuan hidup (Yesus Kristus) pada semua etika bahkan ini dapat memancing adanya penempatan kristus secara supernatural (evangelikalisme).

Etika relijius tradisional pada dasarnya bersifat deontologis, yakni mendasarkan penekanan pada masalah tugas, kewajiban, atau memahami kebenaran dalam bertindak. Seperti sering dikatakan "lakukanlah sesuatu yang membawa kamu pada kehendak tuhan". Pertanyaan yang mendasar yang muncul adalah, "apa yang seharusnya saya lakukan?" atau "apa yang disebut benar?" dalam melakukan ketaatan pada kehendak tuhan atau tuntutan alasan moral. "apa tugas saya terhadap diri saya sendiri, terhadap orang lain, atau terhadap tuhan?" jawaban yang akan muncul adalah hukum emas (golden rule). Meskipun Yesus tidak mengungkapkan teori seperti itu namun pemikirannya menjadi dasar utama etika kristen. Etika yang dikemukakan bersifat agapistik, yakni berdasar pada cinta Tuhan dan sesama manusia, meskipun unsur deontologis dan areteiki dapat ditemukan didalamnya, termasuk unsur otoritarianisme dan supernaturalisme.


Etika Normatif

Ketika kita bergerak dari sifat umum moral menuju kode moral menuju kode moral aktual, kita bergerak ke arena etika normatif. Utilitarianisme adalah etika konsekuensialis (teologis) yang normatif. Ia beranggapan bahwa aksi itu benar jika ia meningkatkan kegunaan dan salah jika mengurangi kegunaan itu kegunaan bisa dipahami sebagai kebahagiaan.

Etika kantian adalah etika deontologis. Ia beranggapan bahwa kita seharusnya hanya mengikuti aturan moral yang secara konsisten kita anggap sebagai aturan universal.

Etika aristotelian adalah etika kebajikan. Ia beranggapan bahwa orang yang baik mengembangkan kebajikan yang terletak di titik tengah atau "jalan tengah" antara dua ekstrem. Contohnya kemurahan hati adalah jalan tengah antara kekikiran dan keroyalan.


Etika Terapan

Ketika kita mendiskusikan isu-isu khusus dalam etika, kita bergerak dari etika normatif ke etika terapan contoh satu persoalan normatif adalah: bagaiman kita seharusnya memperlakukan binatang dan apkah kapasitas mereka untuk merasakan memberi mereka hak asasi?


Masalah Kebaikan

Inggris : good; dalam bahasa latin bonun; dalam bahasa yunani agothon.

Beberapa pengertian :

  1. objek minat, nilai, atau keinginan apa saja.
  2. apa yang menjadi objek kehendak rasional.
  3. yang diinginkan oleh kehendak.
  4. produk kegiatan konteplatif atau perasaan-perasaan yang menyertai kegiatan seperti itu.

Ide kebaikan, atau ide nilai memainkan peranan dalam semua bidang filsafat, tetapi terutama dalam etika, estetika dan aksiologi(ilmu tentang nilai).

Ciri-ciri kata kebaikan menyampaikan ciri-ciri yang bersifat pujian seperti persetujuan, keunggulan, kekaguman, kepatuhan, dan mempunyai arti-arti seperti berbudi luhur, dermawan, menguntungkan, sejati, patut dipuji.

Macam macam kebaikan:

  1. Kebaikan ekstrintik: apa yang diinginkan atau bernilai tidak demi kepentingan sendiri tetapi demi kepentingan sesuatu lainnya, demi konsekuensi-konsekuensi yang bermanfaat yang dibawanya.
  2. Kebaikan inheren; a) kualitas dalam suatu objek atau pengalaman yang menyediakan dasar bagi kita untuk melihatnya sebagai pantas diinginkan. b) kualita ideal yang berada secara objektif, yang umum bagi semua hal dan pengalaman yang baik.
  3. Kebaikan intrinsik: a) apa yang diingini atau bernilai dalam dan bagi dirinya sendiri. b) suatu tujuan yang diupayakan demi keinginan itu sendiri. contoh: (kesenangan).
  4. Kebaikan intrinsik-ektrinsik: apa yang diinginkan atau dinilai baik untuk kepentingan sendiri (dalam dan bagi dirinya sendiri) maupun demi kepentingan sesuatu lainnya, demi konsekuensi-konsekuensi yang bermanfaat yang dibawanya.
  5. Kebaikan instrumantal; apa yang dikehendaki atau bernilai sebagai suatu sarana untuk mencapai kebaikan lainnya. Contoh uang.
  6. Kebaikan kontribusi: apa yang diinginkan atau bernilai karena; a) peranan yang dimainkannya dalam suatu aktifitas atau keseluruhan itu sendiri yang diinginkan atau bernilai (dianggap sebagai baik). b) peranan yang dimainkan dalam suatu proses yang berkembang kearah sesuatu yang diinginkan.


Pandangan beberapa filosof:

  1. Perbedaan antara kebaikan atau nilai instrumental dan intrinsik berasal dari orang yunani, kebaikan intrinsik adalah hal-hal yang baik dalam dirinya sendiri, sedangkan kebaikan instrumental bernilai dalam memungkinkan adanya kebaikan lain.
  2. Ide mengenai kebaikan intrinsik berfusi dengan konsepsi kebaikan tertinggi (summun bonun). Aristoteles menganggap kebahagiaan (eudaimonia) sebagai kebaikan tertinggi. Sedangkan kaum Epikurean memilih kesenangan (kenikmatan) sebagai kebaikan terkhir, kaum stoa apathia (rela menderita), agama kristen cinta(juga sebagian orde sufi islam), konfusianisme li (kesopanan :tata krama).
  3. Bagi Plato, kebaikan tertinggi dimengerti sebagai prinsip transendenial yang mempengaruhi dunia.
  4. Aquinas mendefinisikan kebaikan sebagai sesuatu pada hakikatnya memuaskan hasrat.
  5. Helvetius menyamai kebaikan umum dengan kesenangan bersama.
  6. Bagi Westermarck, kebaikan timbul dari sikap penghargaan dalam masyarakat dan kebenaran dari sikap pencelaan.
  7. G.E. Moore melihat kebaikan sebagai kualitas yang tak dapat dianalisis, yang harus diintuisi.
  8. Berdyaef menyamakan kebaikan dengan kreatifitas dan spontanitas.
  9. Bagi blanshad kebikan merupakan panduan kepuasan dan kepenuhan.


Kebaikan Tertinggi (summun bonun)

Beberapa pengertian:

  1. Cita-cita paling tinggi (sasaran, tujuan, maksud, nilai) kehidupan manusia. Segala sesuatu dikerjakan manusia demi tujuan ini.
  2. Apa yang pantas diinginkan atau dinila sebagai sesuatu yang sangat berharga dan sangat dicari sesudah pengalaman atau objek.

Hal hal yang di pandang sebagai kebaikan tertinggi: kenikmatan, kebahagiaan, kebahagiaan terbesar dari jumlah terbesar, kebajikan, aktualisasi diri, pemenuhan kewajiban atau suara hati atau suara Allah, kesempurnaan, penguasaan diri, kontemplasi, kehendak baik, cinta akan umat manusia, cinta akan Allah, Ekstase, keindahan, keselamatan kekuasaan, uang.

Dalam metafisika dan teologi, kebaikan tertinggi adalah nilai atau kebaikan tertinggi dalam suatu hierarki nilai-nilai atau kebaikan yang tidak dapat ditundukkan pada apapun lainnya

Ditulis Oleh : Nur Giantoro // 7:20:00 PM
Kategori:

2 komentar:

Silahkan Berkomentar......