Senin, 08 Februari 2010

KONSEP ILMU DALAM ISLAM

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang masalah


Ilmu adalah suatu yang sangat menonjol dalam agam Islam, hal ini dapat dilihat dalam Hadist maupun dalam Al-Qur'an, disana banyak sekali ungkapan afala
tatafakkarun, hal ini menunjukkan bahwa manusia diwajibkan untuk mengembangkan ilmu baik ilmu agama maupun ilmu sosial. Bahwa orang yang berilmu dan orang yang tidak dalam islam kedudukannya sangat berbeda jauh

Nabi juga bersabda "tuntutlah ilmu sampai kenegeri cina". Kenapa kenegeri cina? Karena pada masa itu cina sudah berkembang dengan pesat bahkan sudah menciptakan kertas. Nabi menganjurkan bahwa ilmu untuk mengembangkan agama boleh diambil dari orang selain islam asalkan untuk mendekatkan diri pada Allah. Dan islam sebagai filter (penyaring ilmu-ilmu tersebut).

Maka itu bagaimankah islam itu memandang ilmu sebagai sesuatu yang pokok dalam ajaran islam, dan mejadi sesuatu yang wajib dimiliki oleh setiap muslim.


  1. Rumusan masalah
  2. bagaimana kedudukan ilmu dalam islam?
  3. bagaimana pandangan islam tentang ilmu?
  4. sebagai kholifah di bumi apakah syarat bagi manusia?


BAB II

PEMBAHASAN

Ilmu Dalam Islam


Islam adalah agama yang mengutamakan sebuah ilmu, dalam islam diwajibkan bagi setiap seorang muslim untuk menuntut ilmu kewajiban itu ditujukan oleh individu setiap orang. Didalam hadist nabi bersabda:


طلب العلم فريضة علي كل مسلم (رواه ابن ماجه)


Hal ini juga juga dapat dilihat pada ayat pertama surat al alaq :


اقرا باسم ربك الذي خلق (العلق: 1)

Sedangkan Nabi adalah orang yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis), makna iqra' diatas adalah baca dan bacakanlah, pelajari dan ajarkanlah. Para mufassirin termashur menjawab (bahwa yang harus dibaca) ialah:

  1. Al-Qur'an (Ibnu 'Abas, Al-Qurtubi)
  2. Ma
    yuha
    ilaika : apa yang diwahyukan kepadamu (Al-Qosimi, Al-Hanafi, Al-Andalusi dan Al-Jamal)
  3. Ma yutla
    amama-ka : apa yang ditilawatkan di depanmu, dan menyimak apa-apa yang telah ditilawatkan itu.
  4. Ma
    unzila
    ilaika
    minal
    Qur'an : apa-apa yang telah dinuzulkan kepadamu dari al-Qur'an (Al-Qurtubi)


Selain belajar ilmu-ilmu yang termaktub dalam Al-Quran dan Al-Hadist atau biasanya disebut ayat qouliyah (akan menghasilkan ilmu-ilmu agama seperti Fiqih, Ilmu tafsir, Akhlak, Taswuf dan lain-lain) seorang muslim juga dianjurkan mempelajari ilmu-ilmu yang bersifat kauniyah (kejadian-kejadian alam maupun yang lainnya, dan akan menghasilkan ilmu-ilmu seperti ilmu atronomi, ilmu bumi, ilmu sosial). Selain itu dalam Al-Qur'an Allah berfirman bahwa derajat orang yang berilmu sangat tinggi melebihi seorang 'abid (orang ahli yang beribadah). Dalam Fathul Barri disebutkan bahwa: Allah meninggikan derajat orang mu'min yang 'alim dari pada orang mu'min yang tidak 'alim,
meninggikan
derajat disini menunjukkan kepada Al-Fadlu.

Keutamaan disini dimaksud bahwa orang yang beribadah dengan ilmu dengan orang yang beribadah tanpa tahu ilmunya akan berbeda nilainya dari segi pahala yang diperoleh. Allah berfirman dalam surat al maidah ayat 11:


يرفع الله الذين امنوا منكم والذين اوتوا العلم درجات (المجادله11)


Yang artinya: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

Setelah itu pada ayat ke 4-5 pada surat al alaq:

الذي علم بالقلم , علم الانسان مالم يعلم


Disamping lidah untuk membaca, Tuhan pun mentakdirkan pula bahwa dengan pena Ilmu dapat dicatat, dapat pula diartikan dengan sarana dan usaha. Dari ayat diatas kita dapat menjelaskan dua cara yang ditempuh oleh Allah SWT. Dalam mengajarkan manusia, pertama melalui pena (tulisan) yang harus dibaca Oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat. Cara yang kedua ini dikenal dengan Ilmu ladunni.

Allah melengkapi manusia dengan pendengaran, penglihatan, akal dan hati. Jadi Ilmu dapat diperoleh dengan pendengaran penglihatan kemudian diproses dalam fikiran sedangkan hati untuk menimbang apakah ilmu itu dapat mendekatkan diri pada Allah atau bahkan menjauhkan.

Dalam pendidikan Islam dapat dibuktikan bahwa perintah Al-Qur'an dan Hadist tentang menuntut ilmu tidaklah terbatas pada ajaran-ajaran syari'ah tertentu, tetapi juga mencakup setiap ilmu yang berguna bagi manusia bagi manusia. Untuk melakukan hal itu, harus ditunjukkan dan didefinisikan kewajiban tujuan seorang muslim dalam kehidupan di dunia ini. Allah melalui kitabNya Al-Qur'an telah menegaskan bahwa semuanya akan kembali kepada pencipta. Dengan demikian tujuan manusia adalah mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh ridho-Nya. Segala sesuatu yang mendekatkan kepada Tuhan dan petunjuk-petunjuk pada arah tersebut adalah terpuji. Ilmu hanya berguna jika dijadikan alat untuk medekatkan kepada Allah, jika tidak, maka ilmu akan menjadi penghalang besar.

Jadi tujuan yang sebenarnya adalah bahwa Ilmu itu untuk medekatkan diri pada Allah, contohnya melalui ilmu tentang bumi (bagimana langit diciptakan) membuat kita semakin menambah keimanan kita pada Allah.

Al-Qur'an menjelaskan bahwa fungsi penciptaan manusia di alam ini adalah sebagai kholifah. Untuk melaksanakan fungsi ini Allah SWT membekali manusia dengan seperangkat potensi dalam artian berkemampuan menciptakan sesuatu yang berguna untuk dirinya, masyarakat dan lingkungannya.

Manusia diciptakan oleh Allah untuk mejadi kholifah (wakil Allah) maka Allah melengkapi manusia dengan fikiran, berbeda dengan malaikat yang tidak mempunyai nafsu dan tidak diberi kemampuan (tentang ilmu). Hal ini dapat dilihat pada surat al-Baqarah ayat 31-32. "Dia (Allah) mengajarkan pada Nabi adam nama-nama (bend-benda) semuanya. Kemudian dia mengemukannya kepada para malaikat seraya berfirman, sebutkanlah, "Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika memang-orang-orang yang benar (menurut dugaanmu)." Mereka (para malaikat) menjawab, "Maha suci Allah tiada pengetahuan kecuali yang telah engkau ajarkan. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Ayat diatas menjukkan bahwa Allah menunjuk manusia sebagai kholifah yang berada di bumi (bukan dari golongan jin, dan malaikat) jadi sebagai kholifah yang berada dibumui kewajiban bagi manusia adalah berilmu.

Fungsi asasi hidup manusia adalah kholifah (wakil atau deputy) Allah diatas alam ini untuk menerjemahkan, mejabarkan (merealisasikan, mengimplementasikan, mengaplikasikan dan mengaktualisasikan) sifat-sifat Allah yang serba maha itu dalam batas-batas kemanusiaan.




BAB III

Kesimpulan

Dalam Islam ilmu mempunyai kedudukan yang sangat tinggi. Dan orang yang berilmu diangkat derajatnya oleh Allah melebihi orang ahli ibadah.

Kesipulan dari makalah diatas:

  1. Dilihat dari cara memperolehnya ilmu terbagi atas: bil
    kasbi dan bi
    gihoiril
    kasbi.
  2. Dalam Islam ilmu digunakan sebagai saran untuk mendekatkan diri pada Allah.
  3. Sebagai kholifah di bumi maka kewajiban bagi manusia adalah berilmu.









REFERENSI


Chabib Thoha, syukur dan Priyono, Reformasi Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 1996


M. Quraisy Shihab, Tafsir Al-Misbah ,Jakarta: Lentera Hati

Basuki dan M. miftakhul ulum, Pengantar Pendidikan Islam, Ponorogo : stain Po PRESS, 2007

Samsul nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat PRESS, 2002



Ditulis Oleh : Nur Giantoro // Senin, Februari 08, 2010
Kategori:

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Berkomentar......

 
Diberdayakan oleh Blogger.