Rabu, 24 Februari 2010

perkembangan psikososial pada masa anak-anak akhir

BAB I

PENDAHULUAN


 

  1. Latar Belakang Masalah

Sebagai makhluk sosial, setiap individu juga mengalami perkembangan psikososial. Perkembangan ini diteliti oleh banyak ahli, salah satunya adalah Erik Erickson yang mengemukakan bahwa dalam perkembangan psikososialnya manusia mengalami 8 tahap perkembangan sebagai berikut:

Tahap Perkembangan

Dimensi Polaritas Krisis Emosi

1. oral – sensorik

mempercayai – tidak mempercayai sesuatu - HOPE

2. anal - muskulator

kebebasan – malu atau ragu-ragu - WILL

3. genital - lokomotor

inisiatif – bersalah - PURPOSE

4. laten

gairah – rendah diri - COMPETENCE

5. remaja

identitas – kekaburan peran - FIDELITY

6. dewasa muda

kemesraan – keterasingan - LOVE

7. dewasa

generativitas – kehampaan - CARE

8. kematangan

Integritas – kesedihan - WISDOM

    Pada masa 6-12 tahun (atau disebut masa anak-anak akhir) adalah tahap terpenting bagi anak-anak untuk mengembangkan aspek-aspek yang ada pada dirinya seperti aspek afektif, kognitif, psikomotorik, maupun aspek psikososial untuk menyongsong ke masa remaja. Maka karena pentingnya hal tersebut maka pemakalah menembil judul "Perkembangan Psikososial Pada masa Anak-Anak Akhir". Makalah ini hanya sekedar pengantar saja maka bila ada kritik dan saran maupun tambahan sangat kami harapkan untuk kesempurnaan makalah ini.

  1. Rumusan Masalah
    1. apakah masa anak-anak akhir itu?
    2. apakah perkembangan psikososial pada masa anak-anak akhir?


 

BAB II

PEMBAHASAN


 

  1. Pengertian Masa Anak-anak Akhir

Masa ini terjadi pada umur 6 - 7 tahun sampai kurang lebih 12 – 13 tahun. Periode ini dimulai setelah anak melewati masa degil, di mana proses sosialisasi telah dapat berlangsung lebih efektif, dan menjadi matang untuk memasuki sekolah.

Masa ini anak diharapkan untuk memperoleh pengetahuan dasar yang dipandang sangat penting (esensial) bagi persiapan, dan penyesuaian diri terhadap kehidupan di masa dewasa. Oleh karena itu, anak diharapkan mempelajari keterampilan-keterampilan tertentu. Antara lain:

  1. Keterampilan membantu diri sendiri (self help skill)
  2. Keterampilan bermain (ply skill)
  3. Keterampilan sekolah (school skill)
  4. Keterampilan sosial (social help skill)
  1. Perkembangan Psikososil

Perkembangan Psikososial merupakan tahap perkembangan yang dipengaruhi oleh faktor sosial dan kultur. Erikson menemukan bahwa dalam tahap-tahap kehidupan setiap individu, terdapat tugas-tugas perkembangan penting yang perlu diselesaikan dengan baik.

Keberhasilan individu dalam menyelesaikan suatu tugas perkembangan awal akan menjadi dasar bagi tugas perkembangan selanjutnya, sehingga kemungkinan individu untuk dapat menyelesaikan tugas berikutnya akan lebih besar. Namun sebaliknya, kegagalan individu dalam menyelesaikan tugas dalam suatu tahap perkembangan akan cenderung menghambat individu dalam menyelesaikan tugas perkembangan pada tahap selanjutnya. Seorang anak harus melewati tahapan perkembangan psikososial ini secara urut dan masing-masing tahapan harus diselesaikan dengan baik.

Pada fase ini penting bagi seorang anak yang beranjak remaja untuk memiliki pandangan bahwa diri memiliki kemampuan untuk menguasai skill tertentu dan mampu menyelesaikan tugas (disebut juga dengan self esteem). Anak harus sudah mulai mempelajari keterampilan-keterampilan yang baik sesuai dengan lingkungan masyarakat mereka (misalnya di kota Jakarta, pada masa ini anak mulai belajar untuk membaca dan menulis, di Alaska, anak pada masa ini belajar untuk berburu dan menangkap ikan).


Biasanya terjadi pada anak usia 7-12 tahun. Periode ini merupakan periode integrasi yang bercirikan anak  harus berhadapan dengan berbagai macam tuntutan sosial seperti hubungan kelompok, pelajaran sekolah , konsep moral dan etik,  dan hubungan dengan dunia dewasa.


 

Aspek-aspek penting yang dipelajari anak dari proses sosialisasi adalah:

  1. Belajar mematuhi aturan-aturan kelompok
  2. Belajar setia kawan
  3. Belajar tidak bergantung pada orang dewasa
  4. Belajar bekerja sama
  5. Mempelajari perilaku yang dapat diterima oleh lingkungannya
  6. Belajar menrima tanggung jawab
  7. Belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif)
  8. Mempelajari olah raga dan permainan kelompok Belaja rkeadilan dan demokrasi


 

Atwater sebagaimana yang dikutip oleh Desmita mengidentifikasi konsep diri atas tiga bentuk. Pertama body image, kesdaran tentang diri tentang tubuhnya, yaitu bagaimana seseorang melihat dirinys sendiri. Kedua, ideal self, yaitu bagaimana cita-cita dan harapan-harapan seseorang mengenai dirinya. Ketiga, social self, yaitu bagaimana orang lain melihat dirinya.

Rubin dan Krasnor mencatat adanya perubahan sifat dari kelompok teman sebaya pada masa pertengahan anak-anak. Ketika anak berusia 6-7 tahun, kelompok teman sebaya tidak lebih daripada kelompok bermaian, mereka memilioki sedikit peraturan dan struktur untuk menjelaskan peran dan kemudahan berinteraksi di anrata anggotanya. Ketika anak berusia 9 tahun, kolomok-kelopk menjadi lebih formal. Sekarang anak-anak berkumpul menrurt minat yang sama dan merencanakan perlombaab dengan aturan-aturan tertentu.

Anak yang tidak populer dapat dibedakan atas dua tipe, yaitu pertama anak-anak yang ditolak (Rejected children), yaitu anak-anak yang tidak disukai oleh teman-teman sebaya mereka. Mereka cenderung bersifat menggangu, egois, dan mempunyai sedikit sifat-sifat positif. Kedua anak-anak yang diabaikan (neglected children), yaitu anak yang menrima sedikit perhatian dari teman-teman sebaya mereka, tetapi bukan berarti mereka tidak disenangi oleh teman-teman sebaya mereka.

Pada usia ini dunia sosial anak meluas keluar dari dunia keluarga, anak bergaul dengan teman sebaya, guru, dan orang dewasa lainnya. Pada usia ini keingintahuan menjadi sangat kuat dan hal itu berkaitan dengan perjuangan dasar menjadi berkemampuan (competence). Memendam insting seksual sangat penting karena akan membuat anak dapat memakain enerjinya untuk mempelajari teknologi dan budayanya serta interaksi sosialnya. Krisis psikososial pada tahap ini adalah antara ketekunan dengan perasaan inferior (industry – inveriority). Dari konflik antar ketekunan dengan inferiorita, anak mengembangkan kekuatan dasar: kemampuan (competency). Di sekolah, anak banyak belajar tentang sistem, aturan, metoda yang membuat suatu pekerjaan dapat dilakukan dengan efektif dan efisien.


 

BAB III

KESIMPULAN


 

  1. Masa ini terjadi pada umur 6 - 7 tahun sampai kurang lebih 12 – 13 tahun. Periode ini dimulai setelah anak melewati masa degil, di mana proses sosialisasi telah dapat berlangsung lebih efektif, dan menjadi matang untuk memasuki sekolah.
  2. Belajar mematuhi aturan-aturan kelompok, Belajar setia kawan, Belajar tidak bergantung pada orang dewasa, Belajar bekerja sama, Mempelajari perilaku yang dapat diterima oleh lingkungannya, Belajar menrima tanggung jawab, Belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), Mempelajari olah raga dan permainan kelompok Belaja rkeadilan dan demokrasi


 


 


 


 

REFERENSI

Desmita, Psikologi Perkembangan. PT.Remaja Rosdakarya, Bandung, 2005


 

Ditulis Oleh : Nur Giantoro // Rabu, Februari 24, 2010
Kategori:

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Berkomentar......

 
Diberdayakan oleh Blogger.